Tangerang Selatan, publicindonesia.com – Mulai tahun ajaran baru ini, pencak silat resmi masuk ke dalam kurikulum Sekolah Dasar (SD) di seluruh Kota Tangerang Selatan. Namun, kebijakan tersebut justru menimbulkan kebingungan di kalangan pihak sekolah, terutama terkait keterbatasan tenaga pengajar bersertifikat.
Salah satu kepala sekolah SD negeri di Tangsel mengaku kewalahan dalam mencari guru pencak silat yang sesuai dengan aturan. Menurutnya, jumlah pelatih bersertifikasi profesi di Tangsel masih sangat minim, sementara biaya mendatangkan mereka dinilai cukup tinggi.
“Untuk mengikuti program ini penuh perjuangan, khususnya dalam penerapan di sekolah. Guru yang diwajibkan harus bersertifikat, tapi di Tangsel sangat jarang dan biayanya mahal. Kami tidak punya anggaran untuk itu,” keluhnya kepada media, Sabtu (6/9/2025).
Ia menambahkan, membebankan biaya tambahan kepada siswa jelas bukan solusi, sebab berpotensi masuk kategori pungutan liar (pungli). “Kami sudah tidak mungkin membebankan ke orang tua murid. Kalau dipaksakan, malah bisa jadi masalah,” ujarnya.
Kini, pihak sekolah harus mencari jalan keluar sendiri agar tetap bisa melaksanakan kurikulum sesuai ketentuan. “Kami harus nyari solusi sendiri untuk memenuhi itu semua, tapi harus ke mana? Itu yang jadi pertanyaan besar,” tambahnya.
Diketahui, pencak silat masuk kurikulum SD sebagai upaya melestarikan budaya sekaligus membentuk karakter disiplin dan sportivitas siswa sejak dini. Namun, tanpa dukungan tenaga pendidik yang memadai, program ini dikhawatirkan akan sulit berjalan maksimal.
Pihak sekolah berharap pemerintah daerah maupun dinas terkait dapat memberikan solusi, baik berupa bantuan tenaga pengajar, subsidi biaya pelatih bersertifikat, atau pelatihan khusus bagi guru olahraga yang sudah ada.
“Semangatnya bagus untuk anak-anak. Tapi kalau tidak ada fasilitas dan tenaga pengajarnya, kami bingung harus bagaimana,” tutup kepala sekolah tersebut.
(*/Rif)








