publicindonesia.com | CIPUTAT, TANGSEL – Semangat menjaga lingkungan ditunjukkan ratusan relawan dalam kegiatan Susur dan Monitoring Sungai Ciputat bertajuk “Bersama Mari Kita Jaga, Dari Kita untuk Kita” yang digelar pada Minggu, 31 Mei 2026.
Kegiatan diawali dengan seremoni di RW 12 Kelurahan Cipayung, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, sebelum para peserta menyusuri aliran Sungai Ciputat dari titik Universitas Terbuka hingga Graha Hijau 2.
Sedikitnya 200 relawan gabungan terlibat dalam aksi peduli lingkungan tersebut. Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai dari Relawan Potensi Tangerang Selatan, BPBD Tangsel, Redkar Tangsel, Relawan Polairud, Semut Tangsel, BAZNAS Tangsel, Satpol PP, relawan ambulans, hingga komunitas relawan dari Jakarta, Kota Tangerang, dan Tangerang Selatan.
Penggagas kegiatan, Muttaqin, mengatakan bahwa aksi susur sungai ini lahir dari keprihatinan terhadap bencana banjir dan perubahan iklim yang semakin nyata dirasakan masyarakat.
Menurutnya, pengalaman saat menangani bencana besar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat beberapa tahun lalu menjadi titik refleksi penting.
“Pasca kejadian itu saya mendapat laporan yang sampai sekarang kalau melihat dokumentasinya masih merinding. Ada kampung yang hilang diterjang banjir bandang yang datang tiba-tiba tanpa diketahui warga,” ujarnya.
Ia menilai perubahan iklim kini tidak lagi menjadi isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Cuaca ekstrem, suhu panas berlebih, hingga pola musim yang berubah drastis menjadi tanda nyata yang dirasakan masyarakat.
Muttaqin yang juga tinggal di kawasan Pondok Payumas, Cipayung, mengaku mulai merasakan dampak lingkungan dalam beberapa tahun terakhir.
“Dulu hujan sehari semalam tidak pernah ada genangan. Sekarang hujan satu jam saja kawasan perumahan bisa seperti kolam renang,” katanya.
Sementara itu, Lurah Cipayung Dini Nurlianti, S.Sos menjelaskan bahwa kegiatan ini berawal dari inisiatif para ketua RT dan RW di Kelurahan Cipayung yang prihatin dengan munculnya genangan air di sejumlah wilayah.
“Awalnya karena beberapa RT di Cipayung sudah mengalami genangan air. Ketika hujan besar maupun kecil, genangan itu selalu ada. Maka kita ingin mengecek langsung kondisi sungai, apakah ada kendala atau masalah yang harus ditangani,” jelasnya.
Dini mengatakan, para relawan dibagi ke dalam beberapa tim untuk menyusuri sungai sekaligus membersihkan sampah dan mencatat temuan di lapangan sebagai bahan evaluasi dan data lingkungan.
Forum Peduli Sungai Ciputat yang menjadi motor kegiatan ini, lanjutnya, lahir dari kolaborasi lintas RT/RW di Kelurahan Cipayung yang kemudian merangkul wilayah lain.
“Harapan kami kegiatan ini berdampak kepada masyarakat luas, karena Sungai Ciputat tidak hanya melintasi Cipayung tetapi juga beberapa kelurahan lainnya,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, relawan tidak hanya mengangkat sampah plastik, tetapi juga membersihkan tumpukan ranting, kayu, dan material yang menyangkut di sepanjang aliran sungai.
Untuk mendukung proses pembersihan, panitia memasang dua titik jaring sampah. Sistem ini memungkinkan sampah yang dialirkan saat pembersihan tertahan di titik tertentu sehingga lebih aman bagi relawan yang bekerja di sungai.
Dini mengungkapkan medan sungai cukup menantang, dengan kedalaman dan arus yang tidak merata.
“Tadi saya juga turun ke sungai. Ada titik yang airnya sampai di atas dada. Jadi relawan harus sangat berhati-hati,” katanya.
Adapun panjang lintasan susur sungai diperkirakan mencapai 3 hingga 4 kilometer, mulai dari kawasan Universitas Terbuka hingga Graha Hijau 2.
Melalui kegiatan ini, para relawan berharap kesadaran masyarakat terhadap kebersihan sungai dan mitigasi banjir semakin meningkat. Semangat kolaborasi yang diusung melalui slogan “Bersama Mari Kita Jaga, Dari Kita untuk Kita” menjadi pesan bahwa menjaga sungai bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.
(*/Rif)






