publicindonesia.com | Pamulang, — Ribuan ikan ditemukan mati mengapung di Tandon Sarana Indah Permai, Kelurahan Kedaung, Kecamatan Pamulang, sejak beberapa hari terakhir. Peristiwa ini mulai terpantau warga sejak Kamis subuh, 7 Januari 2026, dan hingga Sabtu (10/1/2026) kondisi tandon masih dipenuhi bangkai ikan yang menimbulkan bau tak sedap.
Ketua RT 09/08 Sarana Indah Permai, Suryatno, mengatakan pihaknya belum mengetahui secara pasti penyebab matinya ikan-ikan tersebut. Ia menduga kuat adanya pencemaran yang masuk ke tandon, baik dari limbah rumah tangga maupun faktor lain.
“Kalau penyebab pastinya saya juga kurang paham. Entah dari limbah rumah tangga, dari luar, atau dari kondisi danau (tandon) itu sendiri. Mungkin kualitas airnya sudah kurang bagus,” ujar Suryatno saat ditemui di lokasi.
Menurutnya, kejadian ikan mati massal ini baru pertama kali terjadi sejak tandon tersebut ada. Selama ini, ikan-ikan di tandon bahkan kerap dikonsumsi warga dan tidak pernah menimbulkan masalah.
“Selama ini ikan di sini aman-aman saja, dikonsumsi juga enak. Baru kali ini, mulai tanggal 7 Januari, ikan mulai banyak yang mengambang dan mati,” jelasnya.
Mayoritas Ikan Bujair Mati
Suryatno menyebutkan, terdapat berbagai jenis ikan di tandon tersebut, antara lain ikan patin, ikan emas, ikan gurame, dan ikan bujair. Namun, ikan yang paling banyak mati adalah ikan bujair.
“Jenis ikannya macam-macam, tapi yang paling banyak mati dan ngambang itu ikan bujair,” katanya.
Ia memperkirakan jumlah ikan yang mati mencapai puluhan kilogram. Ikan-ikan tersebut sebelumnya berkembang biak dengan cepat, bahkan sudah mengalami tiga hingga empat generasi dalam kurun waktu satu tahun.
Diduga Terkait Aliran Limbah
Tandon Sarana Indah Permai sendiri dibangun sebagai sarana penampungan air untuk mencegah banjir di kawasan perumahan. Proyek tersebut rampung pada Desember 2024 dan hingga kini belum diresmikan secara resmi.
Suryatno mengungkapkan, beberapa waktu lalu dilakukan perbaikan saluran masuk air (uditch) dengan mengganti saluran kecil menjadi saluran berdiameter lebih besar.
“Setelah pakai uditch yang besar ukuran 80 supaya air lebih lancar, justru kami merasakan mulai ada pencemaran. Makanya saya tidak tahu ini dari limbah rumah tangga atau dari mana,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa sejak awal tandon tersebut memang tidak diperuntukkan untuk budidaya ikan, melainkan murni sebagai penampungan air limpasan dari permukiman.
Warga Keluhkan Bau, Minta Perhatian Pemerintah
Selama tiga hari terakhir, bau menyengat mulai tercium dan dikeluhkan warga sekitar. Meski belum ada laporan warga yang sakit, kondisi ini menimbulkan kekhawatiran.
“Keluhan warga sejauh ini soal bau saja. Alhamdulillah belum ada yang sakit. Mudah-mudahan tidak ada dampak kesehatan,” katanya.
Suryatno berharap Pemerintah Kota Tangerang Selatan, khususnya instansi terkait, dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi tandon tersebut.
“Kami mohon perhatian dari Pemkot Tangsel, terutama terkait kebersihan dan pengawasan limbah yang masuk ke tandon ini. Selama ini pengangkutan sampah kami atasi sendiri bersama warga,” tutupnya.
Sebagai informasi, tandon tersebut juga sempat digunakan untuk kegiatan lomba memancing warga pada perayaan HUT RI 17 Agustus lalu. Namun kini, warga berharap ada penanganan cepat agar pencemaran tidak semakin meluas dan mengganggu lingkungan sekitar.
(*/Rif)








