Ratusan Sopir Angkot Mogok dan Demo di Balai Kota Bogor, Tuntut Keadilan atas Kebijakan Transportasi Baru

oleh -428 Dilihat

Bogor, 23 Oktober 2025 – Suasana Kota Bogor sejak pagi hari mendadak ramai oleh aksi unjuk rasa ratusan sopir angkot dari berbagai trayek. Mereka melakukan aksi mogok operasi dan long march menuju Balai Kota Bogor di Jalan Ir. H. Juanda, Kamis (23/10).

Aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap kebijakan peremajaan angkutan umum dan keberadaan layanan BisKita Trans Pakuan yang dinilai merugikan pengemudi angkot konvensional.


Aksi Damai, Namun Berdampak Besar

Pantauan di lapangan menunjukkan, sejak pukul 09.00 WIB, ratusan sopir mulai berkumpul di beberapa titik seperti Terminal Laladon, Terminal Bubulak, dan Cidangiang, sebelum akhirnya melakukan konvoi menuju pusat kota. Sekitar 500–700 unit angkot tampak parkir berjajar di sepanjang Jalan Juanda, menyebabkan lalu lintas di sekitar Balai Kota tersendat.

Warga yang biasa menggunakan transportasi umum terpaksa menunggu lama bahkan berjalan kaki karena hampir semua trayek angkot tidak beroperasi.


Tuntutan Sopir: Tolak Kebijakan yang Beratkan Rakyat Kecil

Para pengemudi menilai kebijakan Pemerintah Kota Bogor terkait batas usia maksimal kendaraan angkot 20 tahun dan program konversi ke BisKita memberatkan. Mereka khawatir kehilangan mata pencaharian karena tidak mampu mengganti kendaraan baru sesuai regulasi.

“Kami bukan menolak perubahan, tapi tolong beri solusi yang manusiawi. Kalau semua harus ganti angkot baru, uangnya dari mana? Kami ini rakyat kecil,”
ujar Hendra (45), sopir trayek 02 jurusan Sukasari–Bubulak, di sela aksi.

Selain itu, para sopir juga meminta agar layanan BisKita Trans Pakuan diberlakukan tarif normal agar terjadi persaingan sehat. Saat ini, sebagian layanan BisKita masih digratiskan atau disubsidi, sehingga penumpang angkot beralih ke bus tanpa biaya.


Pemerintah Kota: Akan Fasilitasi Dialog

Sekretaris Daerah Kota Bogor, Syarifah Sofiah, yang menemui perwakilan sopir menyampaikan bahwa pemerintah akan menampung aspirasi dan segera menjadwalkan pertemuan antara perwakilan sopir angkot, Dinas Perhubungan, dan manajemen Trans Pakuan.

“Kami paham keresahan mereka. Pemkot tidak berniat mematikan mata pencaharian sopir, tapi justru ingin memperbaiki sistem transportasi agar lebih layak dan aman bagi semua,”
ujar Syarifah.

Ia menegaskan bahwa kebijakan pembatasan usia kendaraan dan peremajaan angkot merupakan bagian dari upaya modernisasi transportasi kota, bukan semata-mata untuk menggusur angkot tradisional.


Penumpang Terdampak dan Jalanan Macet

Dampak aksi mogok ini cukup terasa bagi masyarakat. Banyak pelajar, pekerja, dan warga yang kesulitan mendapatkan transportasi umum. Beberapa jalan utama seperti Jl. Juanda, Jl. Sudirman, dan Jl. Pajajaran mengalami kemacetan panjang akibat parkir massal armada angkot di sekitar lokasi aksi.

Polisi dari Polresta Bogor Kota tampak berjaga di beberapa titik untuk mengatur lalu lintas dan menjaga situasi tetap kondusif. Hingga siang hari, aksi berjalan tertib tanpa insiden berarti.


Aksi Akan Dilanjut Jika Tuntutan Tak Dipenuhi

Koordinator aksi menyebut bahwa jika dalam waktu dekat tidak ada kejelasan mengenai kebijakan transportasi dan nasib sopir angkot, mereka akan menggelar aksi lanjutan dengan skala lebih besar.

“Kami tidak mencari keributan. Tapi kalau terus begini, kami akan turun lagi. Ini soal perut, soal hidup keluarga kami,”
tegas Yudi, perwakilan sopir trayek Laladon–Sukasari.


Kesimpulan

Aksi mogok sopir angkot di Kota Bogor pada Kamis (23/10/2025) menjadi peringatan bagi pemerintah daerah agar lebih bijak dalam menjalankan program modernisasi transportasi. Di satu sisi, transformasi menuju sistem publik yang lebih baik memang penting, namun di sisi lain, keadilan sosial bagi pelaku transportasi tradisional juga tidak boleh diabaikan.

((*/Red)

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.