Puluhan Siswa SMPN 2 Cisarua Alami Muntah-Muntah, Sampel Susu MBG Diperiksa di Laboratorium

oleh -40 Dilihat
Oplus_0

publicindonesia.com | BOGOR — Sebanyak 20 siswa SMP Negeri 2 Cisarua dilaporkan mengalami muntah-muntah pada Rabu (21/10/2026). Satu di antaranya juga mengalami diare. Peristiwa tersebut dilaporkan kepada pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogor Cisarua Leuwimalang 01 untuk ditindaklanjuti.

Berdasarkan laporan klarifikasi SPPG Bogor Cisarua Leuwimalang 01, Kepala SPPG, Fima Aditya Nugraha, menerima informasi dari pihak sekolah sekitar pukul 08.30 WIB mengenai sejumlah siswa yang mengalami muntah-muntah.

Sepuluh menit kemudian, sekitar pukul 08.40 WIB, Fima tiba di lokasi untuk berkoordinasi dengan pihak sekolah serta menemui salah satu siswa bersama wali kelas dan orang tuanya.

Dalam komunikasi awal, siswa tersebut menyampaikan bahwa dirinya mengonsumsi susu sebelum mengalami muntah-muntah. Namun, informasi tersebut belum dapat memastikan penyebab keluhan yang dialami para siswa.

Menjelang pukul 10.00 WIB, jumlah siswa yang mengalami keluhan serupa dilaporkan bertambah menjadi 20 orang. Salah satu siswa juga mengalami diare.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) ke SMPN 2 Cisarua tiba sekitar pukul 08.03 WIB dan mencakup seluruh kelas, termasuk siswa yang mengikuti kegiatan belajar pada jam masuk pagi.

Sampel Susu Dikirim ke Laboratorium

Pihak SPPG menduga susu kemasan yang dibagikan kepada siswa berpotensi berkaitan dengan kejadian tersebut. Produk yang disebut dalam laporan adalah susu UHT full cream merek Diamond.

Sampel telah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) untuk menjalani pemeriksaan. Hingga laporan klarifikasi tersebut disusun, hasil pengujian laboratorium masih ditunggu.

Karena itu, dugaan mengenai susu yang rusak atau tidak layak konsumsi masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.

Koordinasi Penanganan Dilakukan

Sebagai tindak lanjut, pihak SPPG melakukan koordinasi dengan puskesmas untuk penanganan pasien dan pencatatan kejadian. Koordinasi juga dilakukan bersama Babinsa, perangkat daerah setempat, serta pihak kecamatan.

Penanganan para siswa dilakukan melalui pihak puskesmas dan rumah sakit. Pihak SPPG juga dilaporkan menemui pasien.

Hingga hasil pemeriksaan laboratorium keluar, penyebab pasti kejadian tersebut belum dapat dipastikan. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah keluhan para siswa berkaitan dengan susu, makanan atau minuman lain yang dikonsumsi, maupun faktor lainnya.

(*/Red)

No More Posts Available.

No more pages to load.