Tangerang Selatan, publicindonesia.com — Program Koperasi Merah Putih (KMP) yang digagas oleh pemerintah pusat hingga saat ini belum berjalan maksimal di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Meski telah menerima SK Notaris sejak 24 Juli 2025 lalu, namun hingga kini dari 54 koperasi yang ada di Tangsel, tercatat ada 6 koperasi yang baru melakukan peluncuran awal atau soft launching
Salah satu pengurus koperasi mengungkapkan bahwa ada sejumlah hambatan teknis yang membuat koperasi belum bisa berjalan optimal. Beberapa di antaranya adalah:
1. Belum dilakukan rekrutmen anggota koperasi secara resmi.
2. Koperasi belum memiliki kantor tetap sebagai pusat kegiatan.
3. Belum tersedia gudang untuk menyimpan dan mengelola barang.
4. Sarana penunjang kegiatan koperasi juga masih sangat terbatas.
“Kami sudah menyelesaikan legalitas koperasi sesuai aturan, tetapi untuk realisasi program dan pencairan dana, masih banyak hal yang harus dibereskan. Tanpa anggota, kantor, maupun fasilitas penunjang, koperasi sulit untuk benar-benar berjalan,” ujar salah satu pengurus yang enggan disebutkan namanya.
Padahal, keberadaan Koperasi Merah Putih diharapkan mampu menjadi wadah pemberdayaan ekonomi warga di tingkat kelurahan. Dengan konsep gotong royong, koperasi ini diyakini dapat membuka peluang usaha baru, menyediakan kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau, sekaligus meningkatkan kesejahteraan anggota.
Namun tanpa kesiapan infrastruktur dan sistem manajemen yang jelas, program tersebut dikhawatirkan hanya akan mandek di atas kertas. Para pengurus berharap agar pemerintah daerah turut membantu dalam tahap penguatan, mulai dari sosialisasi, pendampingan teknis, hingga penyediaan fasilitas yang dibutuhkan.
“Kalau semua syarat dasar bisa dipenuhi, tentu koperasi ini bisa menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan di Tangsel,” tambah pengurus itu.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Tangsel, Bachtiar Priyambodo menjelaskan, terdapat faktor yang menghambat operasional koperasi merah putih di wilayahnya.
“Jadi modal itu tidak langsung dikirim, tapi harus bikin dulu proposalnya, direview oleh tim di daerah masing, kemudian direview lagi oleh tim dari bank, persyaratannya juga ketat, jadi nggak otomatis dikirim gitu,” jelasnya.
Oleh sebab itu kata Bachtiar, pihaknya mendorong agar para pengurus merekrut anggota sebanyakbanyaknya sembari belajar managemen koperasi.
“Hasilnya kan nanti kita putar untuk membeli sembako dan sebagainya, jadi berputar sambil belajar dulu kalau nanti sudah berkembang ternyata butuh modal besar ya silahkan,”
(*/Rif)








