Wali Kota Tangsel Uji Coba Padi Apung di Tandon Ciater, Bidik Ketahanan Pangan dan Pengendalian Inflasi

oleh -28 Dilihat
oplus_2

publicindonesia.com | Serpong – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mulai melakukan uji coba budidaya padi apung di Tandon Ciater, Serpong, Senin (26/10/2026). Inovasi ini menjadi salah satu upaya memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mendukung strategi pengendalian inflasi di Kota Tangerang Selatan.

Program yang melibatkan Dinas Ketahanan Pangan serta Bagian Perekonomian dan Pembangunan tersebut merupakan langkah inovatif Pemkot Tangsel dalam mengoptimalkan pemanfaatan aset daerah, khususnya tandon air, agar memiliki fungsi tambahan selain sebagai kawasan penampungan air.

Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, mengatakan, program budidaya padi apung merupakan salah satu bentuk implementasi kebijakan ketahanan pangan yang menjadi perhatian pemerintah pusat.

Menurutnya, keterbatasan lahan persawahan di Tangerang Selatan tidak boleh menjadi penghalang bagi pemerintah daerah untuk terus mencari solusi dalam meningkatkan produksi pangan.

“Ya, salah satu program Bapak Presiden itu kan soal ketahanan pangan. Kita implementasikan di daerah dengan mencari strategi dan merekayasa berbagai kemungkinan. Tangsel memang tidak punya area persawahan seperti daerah lain, tetapi kita berupaya memanfaatkan tandon-tandon yang ada agar memiliki fungsi tambahan, termasuk untuk penanaman padi,” ujar Benyamin.

Ia menjelaskan, uji coba tersebut akan berlangsung hingga masa panen yang diperkirakan pada akhir Januari 2027. Selama proses tersebut, Pemkot Tangsel akan mengevaluasi pertumbuhan tanaman, hasil panen, serta manfaat ekonomi yang dapat dihasilkan dari metode budidaya padi di atas permukaan air.

Dalam pelaksanaannya, Pemkot Tangsel mendapat dukungan dari Dinas Pertanian Provinsi Banten, Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), serta berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dan sejumlah pihak terkait lainnya.

Manfaatkan Tandon Air untuk Budidaya Padi

Benyamin mengungkapkan, tandon air yang dimiliki Pemkot Tangsel selama ini berfungsi sebagai kawasan penampungan air atau catchment area. Melalui inovasi padi apung, kawasan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara multifungsi tanpa mengabaikan fungsi utamanya.

Ia menegaskan, pemanfaatan aset daerah untuk mendukung ketahanan pangan akan dilakukan dengan mempertimbangkan hasil uji coba dan dampak yang ditimbulkan.

“Karena ini aset tandon yang dibangun menggunakan APBD dan tercatat sebagai aset daerah, nanti kita lihat seperti apa hasilnya. Kalau berhasil, semua tandon akan kita kaji untuk ditambah fungsinya, selain sebagai catchment area, juga untuk mendukung ketahanan pangan,” jelasnya.

Menurut Benyamin, keberhasilan program ini nantinya dapat membuka peluang bagi Pemkot Tangsel untuk mengembangkan berbagai jenis komoditas pangan dengan memanfaatkan potensi yang tersedia.

Tidak hanya padi, pemerintah daerah juga berencana menjajaki kemungkinan budidaya sayuran, cabai, dan berbagai tanaman hortikultura lainnya.

“Semua peluang akan saya coba. Padi, sayuran, cabai, hortikultura, dan segala macam. Kita uji coba dulu sampai Januari nanti, kemudian kita lihat seperti apa hasilnya,” katanya.

Gunakan 200 Media Tanam Styrofoam

Dalam tahap awal, uji coba budidaya padi apung di Tandon Ciater menggunakan sebanyak 200 unit media tanam berbahan styrofoam.

Setiap unit media tanam dirancang untuk menampung 21 pot tanaman. Sementara itu, setiap pot diisi tiga bibit atau batang padi yang akan dipantau pertumbuhannya selama masa budidaya.

Varietas padi yang digunakan dalam uji coba ini adalah Inpari 32. Pemilihan varietas tersebut didasarkan pada pertimbangan kesesuaian untuk metode budidaya yang sedang diuji.

Pemkot Tangsel ingin mengetahui sejauh mana metode tersebut dapat diterapkan di lingkungan tandon air, mulai dari proses penanaman, perawatan, hingga menghasilkan gabah yang layak dipanen.

Benyamin mengatakan, pihaknya akan melakukan pengukuran terhadap hasil produksi dan manfaat yang diperoleh sebelum memutuskan pengembangan program dalam skala lebih besar.

Dengan demikian, pelaksanaan uji coba tidak hanya berorientasi pada keberhasilan menanam padi, tetapi juga harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Target Awal Tiga Ton per Hektare

Dalam keterangannya, Benyamin menyebutkan target awal produksi yang ingin dicapai sekitar tiga ton gabah per hektare. Namun, angka tersebut masih menjadi sasaran awal yang perlu diuji melalui proses budidaya dan evaluasi hasil panen.

Tandon Ciater disebut memiliki luas sekitar 2,4 hektare. Meski demikian, pemanfaatan lahan untuk budidaya padi apung akan dilakukan secara bertahap, dengan mempertimbangkan hasil uji coba dan kesesuaian teknis di lapangan.

Pemerintah daerah belum menetapkan persentase kebutuhan pangan Kota Tangerang Selatan yang dapat dipenuhi melalui program ini.

Menurut Benyamin, perhitungan kontribusi terhadap kebutuhan pangan daerah baru dapat dilakukan setelah hasil produksi dan potensi pengembangan program diketahui secara lebih jelas.

“Targetnya belum dihitung sampai ke situ. Kita uji coba dulu. Kalau berbicara hasil, kita berharap satu hektare bisa menghasilkan sekitar tiga ton. Nanti kita lihat hasilnya dan bagaimana kemungkinan pengembangannya di tandon-tandon lain,” ungkapnya.

Evaluasi tersebut juga akan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kelayakan program, termasuk dari sisi biaya, produktivitas, keberlanjutan, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Diharapkan Bantu Kendalikan Inflasi Daerah

Selain memperkuat ketahanan pangan, budidaya padi apung di Tandon Ciater juga diarahkan untuk mendukung pengendalian inflasi daerah.

Ketersediaan bahan pangan merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga stabilitas harga. Karena itu, Pemkot Tangsel berupaya mencari berbagai alternatif untuk meningkatkan produksi dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di wilayah perkotaan.

Benyamin menyampaikan, pihaknya akan membahas lebih lanjut dampak program tersebut bersama jajaran terkait, termasuk melalui koordinasi mengenai perkembangan inflasi di Tangerang Selatan.

Pengukuran dampak dan manfaat program menjadi bagian penting sebelum inovasi ini diperluas. Pemerintah perlu memastikan bahwa hasil budidaya nantinya dapat memberikan kontribusi terhadap ketersediaan pangan dan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

Apabila hasil uji coba menunjukkan potensi yang baik, budidaya padi apung diharapkan menjadi salah satu alternatif pemanfaatan aset daerah untuk mendukung kemandirian pangan di tengah keterbatasan lahan pertanian.

Libatkan Petani Muda dan Elemen Masyarakat

Benyamin juga membuka peluang pelibatan berbagai elemen masyarakat dalam pengembangan program ketahanan pangan tersebut.

Sejumlah pihak yang berpotensi dilibatkan antara lain unsur TNI, Pramuka, Karang Taruna, Satlinmas, kelompok wanita tani (KWT), serta masyarakat yang membutuhkan dukungan dalam pemenuhan pangan.

Menurutnya, keterlibatan berbagai elemen tersebut diharapkan dapat menumbuhkan minat generasi muda terhadap sektor pertanian sekaligus memperluas partisipasi masyarakat dalam mendukung program ketahanan pangan.

“Kita juga punya Pramuka, Karang Taruna, dan Satlinmas yang nantinya bisa dilibatkan. Semuanya harus menjadi petani-petani muda. Istilahnya, boleh mereka memakai seragam apa saja, tetapi harus memiliki semangat menjadi petani muda,” tegasnya.

Ia berharap inovasi budidaya padi apung tidak berhenti pada uji coba di Tandon Ciater, tetapi dapat menjadi awal pengembangan pertanian perkotaan yang lebih kreatif dan berkelanjutan.

Meski demikian, keberhasilan program ini tetap akan ditentukan oleh hasil panen, efisiensi biaya, kesesuaian teknis, serta kemampuan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pemkot Tangsel akan menunggu hasil uji coba hingga masa panen yang direncanakan pada akhir Januari 2027 sebelum menentukan langkah pengembangan berikutnya.

Melalui inovasi tersebut, Pemerintah Kota Tangerang Selatan berupaya membuktikan bahwa keterbatasan lahan persawahan bukan berarti menutup peluang untuk mengembangkan alternatif produksi pangan. Pemanfaatan tandon air secara tepat diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung stabilitas ekonomi daerah.

(*/Red)

No More Posts Available.

No more pages to load.