publicindonesia.com | Ciputat Timur, 14 November 2025 — Proyek Penanganan Banjir Perumahan Legoso Permai yang tengah dikerjakan Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (DSDABMBK) Kota Tangerang Selatan menuai keluhan dari warga. Penutupan akses di Jalan Tarumanegara, Pisangan, Ciputat Timur akibat kegiatan proyek membuat aktivitas lalu lintas warga, mahasiswa, hingga pelajar terganggu.
Proyek tersebut merupakan bagian dari Kegiatan Pengelolaan SDA dan Bangunan Pengaman Pantai Pada Wilayah Sungai (WS) dalam Satu Daerah Kabupaten/Kota dengan No. Kontrak 600.1.4.1/000.3.3/015-PTS/EP/SPK/DSDABMBK-SDA/2025. Pekerjaan dilaksanakan oleh PT Cahaya Asi Nabillah, bersumber dari APBD Kota Tangerang Selatan Tahun 2025 dengan nilai anggaran Rp1.959.800.000, dan waktu pelaksanaan 112 hari kalender.
Meski membawa tujuan baik untuk mengurangi risiko banjir di kawasan Legoso Permai, namun pelaksanaan pekerjaan di lapangan justru menimbulkan permasalahan baru bagi warga yang bergantung pada akses Jalan Tarumanegara. Aktivitas mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta siswa Sekolah Nusantara Ciputat pun ikut terdampak.
Untuk mengakomodasi pejalan kaki, pihak pelaksana membangun jembatan darurat. Namun kondisinya dinilai sangat tidak layak. Selain bergoyang ketika diinjak, pegangan jembatan juga ikut bergerak sehingga menimbulkan rasa takut bagi warga yang melintas.
Rita, salah satu mahasiswi UIN, mengaku was-was setiap kali melewati jembatan darurat tersebut.
“Ini bahaya sekali. Jembatannya goyang, pegangan juga goyang. Kalau jatuh ke galian yang kedalamannya sekitar tiga meter itu bisa fatal. Kami lewat saja penuh rasa takut,” ujarnya.
Mandor di lokasi saat ditemui mengatakan bahwa pihaknya membuat jembatan menggunakan bahan seadanya.
“Kami tidak punya bahan untuk bikin jembatan darurat yang lebih kuat. Ini saja dibuat dari material yang ada,” terangnya.
Kondisi ini memicu banyak keluhan dari warga yang mendesak pemerintah dan pihak pelaksana proyek untuk memperbaiki jembatan darurat demi keselamatan publik. Selain itu, diperlukan penanganan lebih serius agar penutupan jalan tidak menimbulkan dampak negatif yang berlarut-larut.
Warga berharap pemerintah segera turun tangan dan memastikan fasilitas sementara seperti jembatan darurat dibuat sesuai standar keselamatan kerja (K3), sebagaimana tercantum dalam prinsip pelaksanaan proyek: “Utamakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.”
(*/Rif)






