Mapala STACIA UMJ Asah Kemampuan Caving di Gua Cicurug Klapanunggal, Perkuat Kompetensi dan Kepedulian Konservasi Karst

oleh -16 Dilihat

publicindonesia.com | Bogor – Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) STACIA Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya anggotanya melalui kegiatan Pengembangan Skill Formica Rufa Divisi Caving di Gua Cicurug, kawasan karst Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kegiatan yang berlangsung pada 28–30 Juli 2026 ini menjadi bagian dari pembinaan kemampuan teknis penelusuran gua sekaligus penguatan wawasan konservasi lingkungan karst.

Pelatihan tersebut difokuskan pada penguasaan Single Rope Technique (SRT), yakni teknik standar yang digunakan dalam aktivitas penelusuran gua vertikal untuk naik dan turun menggunakan satu jalur tali. Penguasaan teknik ini menjadi kompetensi dasar yang wajib dimiliki setiap penelusur gua demi menjamin keselamatan selama kegiatan eksplorasi.

Gua Cicurug, Laboratorium Alam yang Menantang

Gua Cicurug merupakan salah satu gua vertikal yang berada di kawasan karst Klapanunggal, Kabupaten Bogor. Kawasan ini dikenal memiliki nilai penting dari aspek geologi, hidrologi, dan ekologi karena berfungsi sebagai penyimpan cadangan air tanah sekaligus habitat berbagai jenis flora dan fauna.

Nama Cicurug berasal dari bahasa Sunda, yakni “Ci” yang berarti air dan “Curug” yang berarti air terjun, menggambarkan melimpahnya sumber mata air alami di kawasan tersebut.

Secara morfologi, Gua Cicurug memiliki kedalaman sekitar 60 meter dengan dua mulut gua yang saling terhubung. Di dalamnya mengalir sungai bawah tanah aktif yang menjadi ciri khas sekaligus tantangan bagi para penelusur.

Sebelum memasuki lorong utama, peserta harus melewati genangan air sedalam sekitar dua meter. Lorong gua kemudian membentang sepanjang kurang lebih 100 meter, dengan sekitar 60 meter di antaranya menjadi habitat ribuan kelelawar yang hidup secara alami.

Keindahan Gua Cicurug semakin lengkap dengan keberadaan stalaktit dan stalagmit yang masih terjaga. Pada beberapa titik, cahaya matahari menembus lubang vertikal di langit-langit gua dan menciptakan fenomena yang dikenal para penelusur sebagai “Sinar Surga”, menjadi salah satu daya tarik utama lokasi tersebut.

Keselamatan Menjadi Prioritas Utama

Sebelum kegiatan dimulai, seluruh peserta menjalani pemeriksaan perlengkapan menggunakan sistem buddy check, yaitu metode saling memeriksa perlengkapan antaranggota untuk memastikan seluruh sistem pengaman telah terpasang dengan benar.

Peralatan yang digunakan meliputi seat harness, chest harness (body harness), ascender, descender, foot loop, jumar, carabiner, hingga cow’s tail sebagai perlengkapan utama dalam penerapan teknik SRT.

Setelah seluruh perlengkapan dinyatakan aman, peserta melakukan penurunan menuju dasar gua secara bertahap di bawah pengawasan instruktur.

Rigging Dipimpin Instruktur Berpengalaman

Sebelum penelusuran dimulai, tim Mapala STACIA UMJ terlebih dahulu melakukan proses rigging atau pemasangan lintasan tali sebagai jalur utama menuju dasar gua.

Proses ini dipimpin oleh Agusta Tersiantara Tasol selaku master instruktur Mapala STACIA UMJ, didampingi Habibi Ahmad Ramadhan dan Muhammad Zaffa Rosadi Bobab. Ketiganya memastikan seluruh sistem anchor, jalur tali, serta prosedur keselamatan telah memenuhi standar operasional penelusuran gua vertikal.

Penelusuran Dibagi Menjadi Dua Kloter

Untuk menjaga efektivitas pelatihan dan keselamatan, kegiatan penelusuran dibagi menjadi dua kloter.

Kloter pertama berlangsung pukul 11.00–15.00 WIB dengan lima peserta, yakni Nabhan Bakir, Sulaiman, Nabila Aulia Ramadhan, Noval Ananda Hidayat, dan Ahmad Fatih Ramadhan. Mereka didampingi instruktur Agusta Tersiantara Tasol dan Muhammad Zaffa Rosadi Bobab.

Sementara kloter kedua berlangsung pukul 16.00–20.00 WIB, diikuti Ardelia Lavina Rizkiya, Hendry Febriansyah, Muhamad Rasya Fadhil, Darius Muammar Alifi, serta Muhammad Fikri Prasetyo. Pendampingan dilakukan oleh Agusta Tersiantara Tasol, Ananda Syahnu Humairah, dan Habibi Ahmad Ramadhan.

Seluruh aktivitas penelusuran dilaksanakan di titik koordinat 6°27’17.3″S 106°58’10.7″E.

Tim Permukaan Siaga Selama Penelusuran

Keberhasilan kegiatan juga didukung oleh surface team atau tim permukaan yang bertugas mengawasi jalannya penelusuran dari luar gua.

Tim ini berperan memantau komunikasi, mengontrol sistem tali, mencatat pergerakan peserta, hingga memberikan respons cepat apabila terjadi kondisi darurat. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam penerapan standar keselamatan selama kegiatan berlangsung.

Membangun Penelusur Gua yang Kompeten dan Berwawasan Konservasi

Melalui kegiatan Pengembangan Skill Formica Rufa Divisi Caving ini, Mapala STACIA UMJ tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis anggotanya dalam penelusuran gua vertikal, tetapi juga menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian kawasan karst.

Ekosistem karst memiliki fungsi vital sebagai penyimpan cadangan air tanah, habitat beragam flora dan fauna, serta laboratorium alam yang menyimpan nilai ilmiah tinggi. Oleh sebab itu, setiap kegiatan penelusuran dilakukan dengan mengedepankan prinsip keselamatan, konservasi, dan etika penelusuran gua.

Mapala STACIA UMJ berharap seluruh peserta mampu menjadi penelusur gua yang profesional, disiplin, bertanggung jawab, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian ekosistem karst di Indonesia.

(*/Red)

Penulis: Andriyansyah Mandel

No More Posts Available.

No more pages to load.