Kerja Sama Strategis, PT PALYJA Tirta Tangsel dan Perseroda PITS Teken MoU Penyediaan Air Bersih

oleh -554 Dilihat

Tangerang Selatan, publicindonesia.com – Langkah besar dalam pengelolaan air bersih di Kota Tangerang Selatan resmi dimulai. PT PALYJA Tirta Tangsel bersama Perseroda PT Pembangunan Investasi Tangerang Selatan (PITS) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) di Hotel Grand Zury BSD, Jumat (26/9/2025). Penandatanganan ini disaksikan langsung oleh Wali Kota Tangerang Selatan, H. Benyamin Davnie, serta jajaran pejabat dan stakeholder terkait.

Wali Kota Tangerang Selatan, H. Benyamin Davnie, menegaskan bahwa kerja sama ini akan berjalan secara bertahap. Tahapan tersebut akan disesuaikan dengan kapasitas intake yang dibangun, hasil analisis bisnis, serta perhitungan risiko yang matang.

“Kerjasama ini bukan program mendadak yang langsung bisa melayani seluruh masyarakat. Prosesnya bertahap dan terukur. Ada perhitungan biaya komprehensif mulai dari pengambilan air di sungai, pengolahan, hingga distribusi ke rumah-rumah. Potensi perubahan tarif juga akan dievaluasi lebih lanjut,” ungkap Benyamin.

Sebagai pemegang saham prioritas, Pemerintah Kota Tangsel mendorong agar kedua BUMD menjalankan kerjasama ini secara maksimal. Benyamin menekankan pentingnya keseimbangan antara sisi sosial sebagai tugas pelayanan publik dan sisi komersial sebagai entitas bisnis daerah.

“Yang tidak kalah penting adalah kekompakan direksi, agar setiap persoalan bisa diselesaikan dengan cepat, dan pelayanan kepada masyarakat bisa optimal,” tambahnya.

Investasi Triliunan Rupiah

Direktur Utama Perseroda PITS, TB Hendra S, dalam kesempatan tersebut menjelaskan bahwa proyek ini membutuhkan dukungan penuh seluruh pemangku kepentingan, terutama pemerintah daerah. Dukungan bisa berupa regulasi maupun pembentukan gugus tugas khusus di bidang air bersih.

Menurut Hendra, kebutuhan investasi awal (Capital Expenditure/CAPEX) untuk pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan jaringan pipa mencapai Rp 1,2 triliun. Sementara itu, biaya operasional (Operating Expenditure/OPEX) selama 30 tahun diproyeksikan sebesar Rp 2,4 triliun. Dengan demikian, total biaya proyek mencapai Rp 3,6 triliun.

“Karena keterbatasan APBD, diperlukan inovasi pendanaan. Kami akan mendorong pola kerja sama Business to Business (B2B) dan TBA (Kerja Sama Berbasis Angsuran) agar proyek ini bisa berjalan tanpa membebani fiskal daerah,” jelas Hendra.

Skema Tarif dan Subsidi Silang

Lebih lanjut, Hendra memaparkan bahwa biaya produksi air curah dan jaringan distribusi utama (JDU) mencapai Rp 4.650 per meter kubik. Namun harga jual rata-rata kepada konsumen berada di kisaran Rp 8.100 per meter kubik.

Meski begitu, sistem tarif akan menerapkan skema subsidi silang. Golongan sosial, seperti masyarakat berpenghasilan rendah, hanya membayar sekitar Rp 1.500 per meter kubik, sedangkan rumah ibadah dan fasilitas umum dikenakan tarif Rp 2.500 per meter kubik.

“Padahal biaya produksi real bisa di atas Rp 7.000. Ini artinya ada subsidi silang, di mana pelanggan komersial ikut menopang kebutuhan sosial. Angka Rp 4.650 itu pun belum termasuk biaya listrik dan operasional lain,” ujarnya.

Harapan Bersama

Kerja sama strategis antara PT PALYJA Tirta Tangsel dengan Perseroda PITS ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam upaya meningkatkan layanan air bersih di Tangerang Selatan. Selain memberikan solusi jangka panjang atas keterbatasan pasokan, proyek ini juga diharapkan mampu menciptakan sistem pelayanan yang adil dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.

(*/Rif)

No More Posts Available.

No more pages to load.