Baznas Tangsel Perkuat Kesiapsiagaan Warga Lewat Kampung Tanggap Bencana di Cipayung

oleh -16 Dilihat

publicindonesia.com | TANGSEL — Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Tangerang Selatan memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana melalui program Kampung Tanggap Bencana di Kelurahan Cipayung, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Rabu (30/9/2026).

Program tersebut diarahkan tidak sekadar menjadi kegiatan pembentukan dan pelatihan, tetapi juga menjadi langkah untuk meningkatkan kapasitas warga agar mampu melakukan mitigasi serta merespons kondisi darurat secara cepat dan terkoordinasi.

Lurah Cipayung Dini Nurlianti,S.Sos, mengapresiasi dukungan dan kepercayaan yang diberikan kepada wilayahnya. Menurut Dini, rangkaian kegiatan yang telah dilakukan memberikan banyak edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.

“Ini adalah kesuksesan Tangsel yang sudah memberikan kepercayaan kepada kami dan memberikan kesempatan terbaik kepada kami,” ujar Dini.

Menurutnya, pembentukan Kampung Tanggap Bencana harus memberikan manfaat yang berkelanjutan. Setelah pembinaan selesai, masyarakat diharapkan tetap aktif belajar dan menyebarluaskan pengetahuan kebencanaan kepada warga lainnya.

Dini juga menyoroti pentingnya keterlibatan perempuan dalam kegiatan kebencanaan. Menurut dia, kaum ibu memiliki posisi strategis karena berada dekat dengan keluarga dan lingkungan permukiman.

Ia mendorong para perempuan yang telah mendapatkan pembekalan untuk tetap aktif mengikuti berbagai kegiatan serta siap mengambil peran ketika terjadi bencana.

“Ketika ada bencana di wilayah kita, ibu-ibu juga harus hadir. Kita harus bertanggung jawab, tidak hanya di wilayah Cipayung, tetapi juga terhadap lingkungan sekitar,” katanya.

Dini menambahkan, penanganan bencana tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Keterlibatan masyarakat diperlukan agar respons terhadap kondisi darurat dapat dilakukan secara lebih cepat.

Sementara itu, Camat Ciputat Erwin Gemala Putra, S.STP., M.Si., mengatakan program Kampung Tanggap Bencana menjadi bagian dari upaya membangun pola mitigasi yang lebih tertata di tingkat masyarakat.

Menurut Erwin, kolaborasi berbagai unsur menjadi penting agar penanganan bencana dapat dilakukan dengan cepat apabila kondisi darurat terjadi.

“Kalau ini bisa dikolaborasikan, dua organisasi bisa bekerja sama ketika ada bencana. Insyaallah bisa cepat ditangani,” ujar Erwin.

Ia mengatakan kesiapsiagaan perlu diperkuat menjelang musim penghujan. Pasalnya, terdapat sejumlah titik di wilayah Kecamatan Ciputat yang memiliki potensi terdampak banjir maupun longsor.

Pergantian musim, kata Erwin, harus menjadi momentum bagi masyarakat untuk kembali mengingat langkah-langkah mitigasi yang perlu dilakukan.

“Ketika memasuki musim penghujan, ini menjadi pengingat bagi kita. Peran kita untuk melakukan kolaborasi dengan semua stakeholder dan elemen masyarakat harus mulai berjalan,” katanya.

Erwin menyebut pengurus RT dan RW memiliki peran strategis dalam kesiapsiagaan bencana karena berhubungan langsung dengan masyarakat dan keluarga di lingkungannya.

Karena itu, koordinasi antara RT, RW, pemerintah, unsur kebencanaan, dan masyarakat perlu diperkuat. Langkah tersebut penting untuk mengantisipasi berbagai risiko yang mungkin muncul saat musim penghujan.

“Konsep kolaborasi ini sangat penting. Sebesar apa pun potensi bencana, kita harus mempersiapkan diri dan bekerja sama,” ujarnya.

Wakil Ketua 3 Bidang Perencanaan, Keuangan dan Pelaporan (PKP), Tarjuni, M.M, mengatakan Kelurahan Cipayung dipilih dalam pengembangan program Kampung Tanggap Bencana sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

Menurut Tarjuni, program tersebut merupakan bentuk kolaborasi Baznas dengan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana.

Ia mengapresiasi dukungan pemerintah kecamatan, kelurahan, serta masyarakat yang telah mengikuti rangkaian pembinaan selama beberapa pekan.

“Ini bentuk kolaborasi yang baik. Keberadaan Kampung Tanggap Bencana ini diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Tarjuni.

Tarjuni berharap pembinaan yang telah diberikan tidak berhenti setelah program selesai. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh warga diharapkan terus diterapkan serta dikembangkan di lingkungan masing-masing.

Menurutnya, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk mengetahui langkah yang harus dilakukan sebelum, ketika, maupun setelah terjadi bencana.

Dengan demikian, Kampung Tanggap Bencana tidak hanya menjadi sebuah program, tetapi dapat berkembang menjadi gerakan masyarakat yang mampu memperkuat kesiapsiagaan di tingkat lingkungan.

Kolaborasi antara Baznas Tangsel, pemerintah kecamatan, pemerintah kelurahan, RT/RW, serta masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program tersebut.

Melalui penguatan kapasitas warga, mitigasi bencana diharapkan tidak hanya dilakukan setelah bencana terjadi, tetapi dimulai sejak masyarakat mengenali potensi risiko di lingkungan masing-masing.

(*/Red)

No More Posts Available.

No more pages to load.