Warga RW 16 Soroti Rencana Pembangunan Gedung Sekolah 4 Lantai di Tengah Permukiman

oleh -47 Dilihat
Oplus_0

TANGERANG SELATAN — Rencana pembangunan gedung sekolah berlantai empat di kawasan RW 16, khususnya yang berada di sekitar RT 03, RT 04 serta sebagian RT 02 dan RT 05, menjadi perhatian sejumlah warga. Masyarakat meminta agar rencana pembangunan tersebut dikaji secara menyeluruh dan transparan sebelum dilanjutkan.

Warga menegaskan bahwa perhatian yang disampaikan bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan sarana pendidikan. Mereka menyadari bahwa pendidikan merupakan kebutuhan penting dan pembangunan fasilitas pendidikan pada prinsipnya dibutuhkan masyarakat.

Namun, menurut warga, lokasi pembangunan di sekitar kawasan permukiman menimbulkan sejumlah pertanyaan yang perlu dijawab, mulai dari dampak lingkungan, akses jalan, kapasitas siswa, aktivitas kendaraan, keamanan, kebisingan hingga kenyamanan dan privasi warga.

Gangguan Proyek Mulai Dirasakan Warga

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah dampak aktivitas pembangunan sejak tahap awal.

Warga menyebut aktivitas pembongkaran bangunan lama telah menimbulkan debu, kebisingan, lalu-lalang kendaraan proyek, serta penggunaan alat berat di sekitar permukiman.

Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi bahan evaluasi sebelum memasuki tahapan pembangunan gedung baru yang direncanakan memiliki empat lantai.

Warga berharap terdapat penjelasan mengenai langkah mitigasi yang akan dilakukan untuk meminimalkan dampak selama proses konstruksi berlangsung.

Khawatir Mobilitas Sekitar 1.000 Siswa

Selain dampak selama pembangunan, warga juga menyoroti kondisi ketika sekolah nantinya mulai beroperasi.

Apabila kapasitas sekolah mencapai sekitar 1.000 siswa, aktivitas harian diperkirakan tidak hanya melibatkan peserta didik, tetapi juga guru, tenaga kependidikan, orang tua, kendaraan antar-jemput, ojek, pedagang dan aktivitas pendukung lainnya.

Dengan kondisi jalan lingkungan yang relatif terbatas, warga mempertanyakan apakah telah dilakukan kajian lalu lintas serta manajemen kendaraan, khususnya pada jam masuk dan pulang sekolah.

Masyarakat berharap jangan sampai jalan lingkungan berubah menjadi titik kepadatan kendaraan dan kerumunan setiap hari.

Keamanan dan Ketertiban Juga Diminta Diantisipasi

Warga juga meminta aspek keamanan dan ketertiban menjadi bagian dari perencanaan.

Mereka menegaskan bahwa kekhawatiran tersebut bukan berarti menuduh keberadaan sekolah akan menimbulkan tindak kriminal maupun gangguan keamanan.

Namun, menurut warga, setiap potensi kerawanan perlu diantisipasi sejak awal mengingat jumlah siswa yang besar dan lokasi sekolah yang berada di tengah kawasan permukiman.

Bangunan 4 Lantai Dinilai Mengubah Karakter Lingkungan

Rencana pembangunan gedung dengan ketinggian sekitar 17 hingga 20 meter juga menjadi perhatian dari aspek kenyamanan hunian.

Warga menilai keberadaan bangunan bertingkat di tengah kawasan permukiman berpotensi mengubah karakter lingkungan yang selama ini mereka tempati.

Aspek pencahayaan, sirkulasi udara, tata ruang, hingga kenyamanan visual dinilai perlu diperhitungkan dalam perencanaan bangunan.

Persoalan privasi warga juga menjadi perhatian. Bangunan bertingkat dengan aktivitas dari lantai atas dinilai perlu memperhatikan kemungkinan sudut pandang langsung ke rumah-rumah warga di sekitarnya.

Karena itu, warga berharap desain dan tata bangunan mempertimbangkan hak masyarakat sekitar untuk mendapatkan kenyamanan dan privasi di rumah masing-masing.

Kebisingan Aktivitas Sekolah Perlu Dikaji

Warga juga mengingatkan bahwa sekolah bukan hanya sebuah bangunan fisik.

Ketika beroperasi, akan terdapat berbagai kegiatan seperti proses belajar mengajar, olahraga, upacara, baris-berbaris hingga penggunaan pengeras suara.

Aktivitas tersebut dinilai berpotensi memengaruhi tingkat kebisingan di lingkungan sekitar.

Karena itu, masyarakat meminta adanya kajian mengenai dampak kebisingan, terutama terhadap rumah warga yang berada paling dekat dengan lokasi sekolah.

Lansia dan Balita Menjadi Perhatian

Kondisi warga yang tinggal di sekitar lokasi juga menjadi pertimbangan.

Di kawasan permukiman terdapat keluarga dengan balita, anak-anak serta warga lanjut usia yang membutuhkan suasana lingkungan yang nyaman dan relatif tenang.

Warga berharap keberadaan fasilitas pendidikan nantinya tetap dapat berjalan berdampingan dengan kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan lingkungan hunian yang aman, nyaman dan tenteram.

Warga Minta Dampak Jangka Panjang Diperhitungkan

Menurut warga, persoalan pembangunan tidak seharusnya hanya dilihat dari kondisi saat ini.

Gedung sekolah merupakan bangunan permanen yang dapat digunakan selama puluhan tahun. Karena itu, dampak terhadap lingkungan perlu dipikirkan untuk jangka panjang.

Masyarakat berharap setiap keputusan pembangunan mempertimbangkan kondisi lingkungan hingga 10, 20 tahun bahkan beberapa dekade mendatang.

Termasuk di dalamnya perubahan karakter kawasan, kepadatan aktivitas, kebutuhan akses jalan serta kenyamanan generasi berikutnya.

Nilai Properti Juga Diminta Dikaji Secara Objektif

Perubahan karakter lingkungan juga dinilai dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap kenyamanan kawasan hunian.

Karena itu, warga berharap aspek sosial dan ekonomi, termasuk kemungkinan dampak terhadap nilai serta kenyamanan properti di sekitar lokasi, dapat dikaji secara objektif dan berdasarkan data, bukan sekadar asumsi.

Warga Tegaskan Tidak Menolak Pendidikan

Warga RW 16 kembali menegaskan bahwa aspirasi yang disampaikan bukan untuk menolak pembangunan fasilitas pendidikan.

Mereka mendukung peningkatan pelayanan pendidikan, tetapi meminta agar pembangunan dilakukan di lokasi yang tepat dan sesuai dengan karakter lingkungan sekitarnya.

Masyarakat meminta agar sejumlah aspek dikaji secara terbuka, antara lain kesesuaian tata ruang dan lokasi, kapasitas siswa, akses dan lalu lintas, keselamatan warga, dampak lingkungan, kebisingan, drainase dan limpasan air, sirkulasi udara, pencahayaan, privasi, keamanan serta dampak sosial dan ekonomi.

Masyarakat Minta Kajian Transparan Sebelum Pembangunan Dilanjutkan

Warga berharap pemerintah dan pihak terkait dapat membuka ruang dialog dengan masyarakat yang terdampak langsung.

Menurut mereka, kajian yang transparan dan melibatkan masyarakat diperlukan agar pembangunan fasilitas pendidikan tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.

“Kami tidak sedang memusuhi pembangunan. Kami ingin pembangunan dilakukan secara tepat, aman, terukur dan tidak mengorbankan kenyamanan warga,” menjadi inti aspirasi yang disampaikan masyarakat.

Warga juga mengajak seluruh masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara tertib melalui jalur yang benar.

Mereka berharap kepentingan pembangunan pendidikan dan kepentingan masyarakat sekitar dapat dipertemukan melalui solusi yang adil serta berdasarkan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Mari peduli pada lingkungan kita. Mari jaga kenyamanan tempat tinggal kita. Mari bersikap tegas, tetapi tetap arif dan bermartabat. Amankan lingkungan kita sebelum menyesal.”

Dengan demikian, masyarakat berharap rencana pembangunan gedung sekolah berlantai empat tersebut dapat terlebih dahulu melalui kajian menyeluruh sehingga manfaat pendidikan tetap dapat dirasakan tanpa mengabaikan hak dan kenyamanan warga yang tinggal di sekitar lokasi.

(*Red)

No More Posts Available.

No more pages to load.